SUKU BIMA NUSA TENGGARA BARAT INDONESIA : 7 Unsur Kebudayaan

cr:https://www.goodnewsfromindonesia.id/

Indonesia merupakan negara yang sangat luas,baik daratannya maupun lautannya. Indonesia kaya akan kebudayaannya. Dimana dihasilkan oleh manusia yang hidup di masing-masing wilayah, tentunya setiap wilayah memiliki kebudayaan yang berbeda. Kebudayaan dengan manusia tidak dapat dipisahkan karena kebudayaan adalah hasil ciptaan dari pemikiran manusia itu sendiri. Manusia yang menciptakan kebudayaan yang berbeda dari tiap-tiap wilayah yang mempunyai perbedaan agama,bahasa,ras dan ada suku.
Suku Bangsa adalah suatu golongan manusia yang mengidentifikasi dirinya dengan sesama berdasarkan garis keturunan yang di anggap sama dan merujuk ciri khas seperti budaya,bangsa,bahasa,agama dan perilaku. Yang dimana suku bangsa ini merupakan suku sosial dan mempunyai sifat askriptif(ada sejak lahir). Suku bangsa merupakan jenis Identitas Nasional indonesia dimana mempunyai ciri khas dan keanekaragamnya masing-masing atau majemuk. Karena indonesia mempunyai lebih dari 300 suku bangsa ditiap wilayahnya dan salah satunya adalah suku Bima dari Nusa Tenggara Barat.
A.    Letak Geografis Suku Bima dan Singkat Sejarah
Kota Bima terletak di  bagian timur pulau sumbawa pada posisi pada posisi 118°41'00"-118°48'00" Bujur Timur dan 8°20'00"-8°30'00" Lintang Selatan. Suku Bima atau Duo Mbojo tepatnya berasal dari kabupaten bima dan kota bima. Ada juga secara Etimologi beberapa versi yang pertama, mengatakan tentang asal mula kata Bima menjadi suku tersebut yaitu pendapat yang mengatakan, Bima berasal dari kata “Bismillaahirrohmaanirrohiim”. Hal ini karena mayoritas suku Bima beragama Islam. Menurut sebuah legenda, kata Bima berasal dari nama raja pertama suku tersebut, yakni Sang Bima. Nama Bima sebenarnya merupakan sebutan dalam bahasa Indonesia, sedangkan masyarakt Bima sendiri menyebut dengan kata Mbojo. Dalam suku Bima sendiri terdapat dua suku, yakni suku Donggo dan suku Mbojo. Suku Donggo dianggap sebagai orang pertama yang telah mendiami wilayah Bima.
Nama Bima sebenarnya merupakan sebutan dalam bahasa Indonesia, sedangkan masyarakat Bima sendiri menyebut dengan kata Mbojo. Dalam suku Bima sendiri terdapat dua suku, yakni suku Donggo dan suku Mbojo. Suku Donggo dianggap sebagai orang pertama yang telah mendiami wilayah Bima.Suku ini telah mendiami daerah tersebut semenjak kerajaan majapahit masih ada. Menurut sejarahnya, suku Bima mempunyai 7 pemimpin di setiap daerah yang disebut Ncuhi. Pada masa pemberontakan di Majapahit, salah satu dari Pandawa Lima, Bima, melarikan diri ke Bima melalui jalur selatan agar tidak ketahuan oleh para pemberontak dan langsung diangkat oleh para Ncuhi sebagai Raja Bima pertama. Namun Sang Bima langsung mengangkat anaknya sebagai raja dan dia kembali lagi ke Jawa dan menyuruh 2 anaknya untuk memerintah di Kerajaan Bima. Oleh karena itu, sebagian bahasa Jawa Kuna kadang-kadang masih digunakan sebagai bahasa halus di Bima.
B.     Karakteristik dari Suku Bima
Sebenarnya, didalam suku bima itu sendiri dibagi lagi menjadi dua sub-suku yaitu Suku Donggo dan Suku Mbojo. Berikut ciri-ciri atau karakteristik dari masing-masing sub-suku :
1.      Suku Donggo
Kelompok ini menghuni kawasan bagian barat teluk, tersebar di gunung dan lembah. Dari penelitian Zollinger (1847) diketahui bahwa dou Donggo (Donggo Di) dan penduduk Bima di sebelah timur laut teluk Bima (dou Donggo Ele) menunjukkan karakteristik yang jelas sebagai ras bangsa yang lebih rendah, kecuali beberapa corak yang menunjukkan kesamaan dengan orang-orang Bima di sebelah timur Teluk Bima. Sedangkan penelitian Elber Johannes (1909-1910) menyimpulkan pada dasarnya orang Bima yang tinggal di sekitar ibu kota ada ras bangsa yang lebih tinggi, hidup pula ras bangsa campuran yang bertalian dengan orang Bugis dan Makasar yaitu ras bangsa Melayu Muda. Penelitian terhadap anggota masyarakat Bima yang lebih tua menunjukkan suatu kecenderungan persamaan dengan orang sasak Bayan di Lombok. Orang D onggo dan Sasak Bayan memiliki kesamaan ciri yaitu berambut pendek bergelombang, keriting, dan warna kulit agak gelap.
 2.      Suku Mbojo
Kelompok ini menghuni kawasan pesisir pantai. Orang Bima merupakan suatu ras bangsa campuran dengan orang Bugis-Makasar dengan ciri rambut lurus sebagai orang Melayu di pesisir pantai. Dalam pencatatan Kitab BO, bahwa para ncuhi berasal dari Hindia Belakang (Indo Cina) sebagai asal usul dari penduduk di pesisir pantai. Banyak kata benda dalam bahasa Bima yang memiliki persamaan dengan bahasa Jawa Kuno, utamanya yang masih dipergunakan oleh sisa penduduk asli yang tersimpan dalam bahasa Donggo, bahasa Tarlawi dan Bahasa Kolo. Hanya kadang-kadang pengucapannya sudah berubah atau pengucapannya tetap tapi artinya berbeda. Perubahan tersebut terjadi karena hubungan yang sulit atau terputus sehingga komunikasi antar penduduk induk sumber bahasa terputus pula. Akibatnya pengucapan atau arti bahasa asli tesebut berkembang dalam corak yang berbeda antara satu dengan lainnya.
3.      7 Unsur Kebudayaan Suku Bima
Budaya menurut Linton merupakan suatu keseluruhan sikap dan pola perilaku serta pengetahuan yangmerupakan suatu kebiasaan yang diwariskan dan dimiliki oleh suatu bangsa atau masyarakat tertentu. Suku Bima tentu mempunya kebudayaan yang berbeda dari berbagai macam suku-suku lain yang ada di wilayah indonesia, yang kemudian dapat dikatakan sebagai ciri khas atau daya tarik bagi suku tersebut. Berikut beberapa 7 unsur kebudayaan yang dimiliki oleh suku Bima :
1.      Sistem Pengetahuan
Secara umum, penduduk Nusa Tenggara Barat sangat terikat dengan adat dan agamanya, Namun demikian, merreka tidak menutup diri sama sekali dari pengaruh luar. Dahulu, sekolah dianggap perusak adat. Saat ini anak-anak disekolahkan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Mereka cenderung beranggapan segala yang berasal dari luar itu baik, terutama yang menyangkut kebudayaan dan teknologi. Cara hidup dan berfikir sudah mengikuti pola modern, hidup hemat, cermat dan ekonomis.
2.      Bahasa
Bahasa yang digunakan seari-hari oleh masyarakat suku bima adalah bahasa bima itu sendiri. Bahasa bima ini terdiri dari tiga dialek yaitu Bima, Bima Donggo dan Sangiang.Adanya ketiga dialek tersebut menunjukkan tingkatan atau tinggi rendahnya bahasa Bima, yang kemudian digunakan sebagai acuan dalam berkomunikasi, sebagai wujud nilai kesopanan.  Dalam dialek bahasanya, mereka sering menggunakan huruf hidup dalam akhiran katanya, jarang menggunakan huruf hidup. Misalnya kata “jangang” diucapkan menjadi “janga”.Bahasa yang mereka pakai ini termasuk bahasa yang digunakan oleh kelompok Melayu Polynesia.
3.      Sistem Peralatan dan Teknologi
Masyarakat Bima telah mengenal teknologi, sehingga peralatan yang dipergunakan beberapa sudah modern. Peralatan dan perlengkapan hidup mencakup pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat produksi, dan transportasi.

4.      Sistem Kesenian
a)              Tari Bajang Girang
Tarian ini perwujudan ekspresi perasaan anak muda yang selalu bermaksud untuk melaksanakan perkawinan. Dalam Bahasa Indonesia, kata bajang berarti muda dan girang berarti senang.
b)             Tari Lenggo

Tari Lenggo adalah salah satu jenis kesenian yang ada pada zaman dahulu diselenggarakan oleh para Raja dan Ratu di Bima. Gerakan tarian ini yang demikian luwes merupakan cerminan keluwesan dan tingkah laku yang baik dari para pemuda dan pemudi di Bima. Tari Lenggo pada zaman dulu sering dipertunjukan pada upacara-upacara menyambut tamu-tamu, upacara adat lainnya atau acara penting kerajaan.
c)             Ntumbu
Ntumbu adalah atraksi mengadu kepala antara dua pemain, merupakan salah satu pertunjukan di daerah Bima. Pada pertunjukan ini kedua pemain diberikan kekebalan lebih dulu oleh pemimpin pertunjukan yang disebut Guru' dengan berdo'a yang disebut Nochtah". Untuk memungkinkan melangsungkan pertunjukan perlu adanya kepercayaan, keyakinan yang dikonsentrasikan dalam hati bagi kedua pemain dan ini akan diperoleh apabila kedua pemain telah di do'akan. Pemain membagi diri dalam dua kelompok. Kelompok yang bertahan disebut "Te'e" dan yang menyerang disebut "Ncora" Atraksi Ntumbu diiringi musik tradisional Bima, mula-mula pemain yang memegang dan melambaikan saputangan memberi salam kepada penonton kemudian pemanasan sebelum melakukan adu kepala.
5.      Sistem Mata Pencaharian
Mata pencaharian utama adalah bertani dan sempat menjadi segitiga emas pertanian bersama Makassar dan Ternate pada zaman Kesultanan. Oleh karena itu, hubungan Bima dan Makassar sangatlah dekat, karena pada zaman Kesultanan, kedua kerajaan ini saling menikahkan putra dan putri kerajaannya masing.Selain bertani, masyarakat Bima juga berladang, berburu dan berternak kuda yang berukuran kecil tapi kuat. Sistem pengairan Subak yang dikenal dalam masyarakat Bali dan Sasak juga diterapkan, disebut ponggawa. Irigasi secara permanen ini dapat dilakukan karena adanya sungai-sungai di pesisir utara dan sungai-sungai di pusat pegunungan. Selain itu, para wanita juga membuat kerajinan anyaman dari rotan dan daun lontar, juga kain tenunan 'tembe nggoli, yang terkenal. Sejak abad ke-14 kuda Bima telah diekspor ke Pulau Jawa. Tahun 1920 daerah Bima telah menjadi tempat pengembangbiakkan kuda yang penting. Para wanita suku Bima membuat kerajinan anyaman dari rotan dan daun lontar, juga kain tenunan “tembe nggoli” yang terkenal
6.      Sistem Religi
Mayoritas suku Bima menganut agama Islam dan sebagian kecil menganut agama Kristen dan Hindu. Namun, ada satu kepercayaan yang masih dianut oleh suku Bima yang disebut dengan Pare No Bongi. Pare No Bongi merupakan kepercayaan asli orang Bima yang menganut kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Dunia roh yang ditakuti adalah Batara Gangga sebagai dewa yang memiliki kekuatan yang sangat besar sebagai penguasa.
Selain itu juga ada Batara Guru, Idadari sakti dan Jeneng, roh Bake dan roh Jim yang tinggal di pohon atau gunung yang sangat besar dan dipercaya berkuasa untuk mendatangkan penyakit, bencana, dan lainnya. Juga terdapat sebatang pohon besar di Kalate yang dianggap sakti, Murmas tempat para dewa Gunung Rinjani; tempat tinggal para Batara dan dewi-dewi.

7.      Sistem Kemasyarakatan
Sebagaimana kampung adat lainnya, pada Suku Bima terdapat  perangkat adat yang berfungsi mengurus segala urusan masyarakat yang berkaitan dengan adat istiadat maupun hukum adat.
D.    Kehidupan Suku Bima Saat Ini
Saat ini suku bima tinggal di wilayah bima yang merupakan suku asli dari wilayah tersebut. wilayah bima saat ini dipimpin oleh walikota. Kota Bima memiliki karakteristik perkembangan wilayah yaitu: pembangunan infrastruktur yang cepat, perkembangan sosial budaya yang dinamis, dan pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi Dengan peradaban Budaya Dou Mbojo yang sudah mengakar sejak jaman kerajaan hingga sekarang masih dapat terlihat dalam kehidupan masyarakat Kota Bima dalam kesehariannya. Baik sosial, Budaya dan Seni tradisional yang melekat pada kegiatan Upacara Adat, Prosesi Pernikahan, Khataman Qur’an, Khitanan dan lain-lain serta bukti-bukti sejarah Kerajaan dan Kesultanan masih juga dapat dilihat sebagai Situs, Kepurbakalaan dan bahkan menjadi Objek Daya Tarik Wisata yang ada di Kota Bima dan menjadi objek kunjungan bagi wisatawan lokal, nusantara bahkan mancanegara.




Sumber :
Mariati. 2013. “Maja Labo Dahu” Dalam Dinamika Kehidupan Masyarakat Bima. Skripsi.         Makassar. UIN Alauddin Makassar.
  Nurjannah dan Husnul Khotimah. 2017.  Analisis Ciri Khas Pola Kehidupan Sosial Masyarakat Suku Donggo: Suatu Tinjauan Sejarah Sosial Budaya. Bali. Vol. 1 19-20.
  Sejarah Kota Bima (https://portal.bimakota.go.id/web/kontent/8/sejarah_kota_bima) Di Akses pada 8 Maret 2020 13.39.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME/RESENSI KITAB NEGARAKERTAGAMA DAN KITAB PARARATON

Resensi Carita Parahyangan : Kerajaan Sunda Galuh dan Kerajaan Padjajaran