RESUME/RESENSI KITAB NEGARAKERTAGAMA DAN KITAB PARARATON
Sumber
sejarah terdiri dari berbagai macam jenis salah satunya adalah sumber tulis.
Sumber tulis ini berarti bahwa didalamnya terdapat sebuah tulisan yang mencakup
sebuah aktivitas atau peristiwa manusia, contohnya adalah sebuah kitab.
Indonesia sendiri mempunyai banyak kerajaan dan tiap kerajaannya menghasilkan
sebuah peninggalan berupa kitab seperti peninggalan Kerajaan Singasari dan
Majapahit yaitu Kitab Pararaton dan Kitab Negarakertagama. Keduanya memiliki
perbedaan yang signifikan.
Serat
Pararaton, atau Kitab Pararaton (bahasa Kawi: “Kitab Raja-Raja”), adalah sebuah
kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang diubah dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah
ini cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1126
baris. Kitab ini juga dikenal dengan nama “Pustaka Raja”, yang dalam bahasa
Sanskerta juga berarti “kitab raja-raja”. Tidak terdapat catatan yang
menunjukkan siapa penulis Pararaton. Isinya adalah sejarah raja-raja Singhasari
dan Majapahit di Jawa Timur. Secara
umum isi Kitab Pararaton menceritakan cikal-bakal berdirinya kerajaan di
Singasari yang dipimpin oleh Ken Arok sampai ke berdirinya kerajaan Majapahit.
Namun diantara isi dari Kitab Pararaton ini mengandung unsur magis dan
mitologis, kenapa? Berikut sepenggal isi dari bab pertama Kitab Pararaton.
Demikian
inilah kisah Ken Arok asal mulanya ia dijadikan manusia: adalah ia (Ken Arok
sebelum berrenkarnasi) anak seorang Janda dari Jiput. Bertingkah laku Jahat.
Selalu menerjang nilai susila. Mengganggu kesetabilitasan Para Dewa di khayangan.
Ia mengungsi dari Jiput ke daerah Bulalak, sebuah daerah yang dipimpin oleh Mpu
Tapa Wangkeng yang waktu itu sedang membangun pintu Gapura (sebagai pintu
pemujaan). Mpu Tapa Wangkeng bingung bukan kepalang ketika Para arwah penunggu
pintu Gapura meminta sesaji Kambing merah yang Jantan.Ini adalah hal yang
sangat memusingkan. Karena kambing merah jantan tak lain adalah manusia dalam
kiasan para roh. Sedangkan aku sudah tak ingin lagi berbuat dosa apalagi harus
membunuh" kata Mpu dalam hati.Kemudian datang lelaki dari Jiput yang jahat
itu, ia berkata, kalau dia sanggup dijadikan korban yang dimaksud sang-Mpu
tersebut agar hal tersebut menjadi sarana yang membuat ia bisa naik ke surganya
Dewa Wisnu. Dan, kemudian dilahirkan kembali sebagai manusia yang mulia.
Demikianlah permintaannya.
Maka
Mpu Tapa Wangkeng pun merestui. Dan, dipanjatkan puja-puji supaya ia menikmati
tujuh daerah sesudah kematian. Dan, selanjutnya ia pun dijadikan korban. Lalu,
arwah lelaki itu terbang di surga wisnu dan menemui Bhatara Brahma. Menagih
janji agar diturunkan kedunia didaerah seputar Kawi. Bhatara Brahma pun
berputar mencari tempat yang tepat untuk meletakkan benih tersebut. Sampai,
Tersebutlah sepasang pengantin baru yang kesehariannya sebagai petani lelakinya
bernama Gajahpara dan perempuannya Ken Endok. Mereka tinggal di desa pangkur.
Bhatara Brahma pun menemui ken Endok di ladang leletan dan menitipkan benih
tersebut."Wahai wanita bestari kutitipkan kepadamu benih dari keturunan
manusia. Dan, berjanjilah padaku jangan sampai benih ini, nanti bercampur
dengan benih milik suamimu. Dan jika hal itu terjadi niscaya lelakimu akan
binasa. Kelak benih ini bernama Ken Arok yang akan menjadi Raja besar penguasa
tanah Jawa.".”
Berdasarkan
penggalan isi kitab pararaton tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa
kalimat-kalimat tersebut mengandung unsur magis mitologis. Apa alasannya
penulis kitab ini membuat sebuah cerita khayalan? Apakah hanya untuk menarik
perhatian saja jika dibaca seperti halnya “ bumbu” yang membuatnya terlihat seru
seperti novel?
Tak
jauh beda dari kitab pararaton yakni kitab Negarakertagama yang bertahunkan
1365 yang baik bahasa ataupun teks-nya begitu halus dan hati-hati. Dimana
penulisnya sangat jelas, adalah Mpu Prapanca yang merupakan pelaku sejarah
langsung. Mpu Prapanca merupakan pujagga kraton yang hidup dimasa Hayamwuruk.
kitab Negarakertagama ini ditemukan oleh seorang ilmuwan Belanda JLA Brandes
pada tahun 1894 ia menemukan kitap
tersebut ketika membantu expedisi penyerangan di Kerajaan Lombok.
Kitab
tersebut terdiri dari 98 pupuh dimana dalam pupuh 40 sampai 49 juga banyak
menerangkan silsilah Raja-raja kerajaan Singasari yang merupakan nenek moyang
Raja-raja Majapahit juga tentang silsilah Raja-raja majapahit sendiri. Namun,
tak dapat disangkal jika kitab ini lebih menjadi "berbeda" dari yang
tertulis di Kitab Pararaton. Dalam Negarakertagama lebih condong
"meng-istimewa-kan" Raja-raja sebelum Raden wijaya dan Kendedes yang
merupakan Wanita suci, leluhurnya. Perbedaan. Disini Raja ketiga Panji Toh Jaya
yang "ada" tertuang dalam pararaton namun di Negarakertagama tidak
ada nama Tohjaya. Tohjaya sendiri
merupakan seorang anak yang berasal dari Ken Arok dan Ken Umang sebelum Ken
Arok menikah dengan Ken Dedes. Tohjaya sendiri dibunuh oleh saudaranya sendiri
yaitu Ranggawuni dengan menggunakan tombak tidak menggunakan keris yang oleh
Mpu Gandring. Bisa dibilang bahwa Tohjaya merupakan anak dari seorang selir. Dan
di kitab Negarakertagama tidak pernah menyebut nama Tunggul Ametung maupun Ken
Arok. Penguasa Tumapel yang mengalahkan Kerajaan Kediri, menurut kitab ini,
adalah Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra.
VERSI
KITAB PARARATON
|
VERSI
KITAB NEGARAKERTAGAMA
|
Tunggul Ametung
(1185-1222) | Penguasa Tumapel
|
Rangga Rajasa
(1222-1227) | Penguasa Tumapel
|
Ken Arok
(1222-1247) | Penguasa Tumapel, membunuh Tunggul Ametung
|
Anusapati
(1227-1248) | Putra Rangga Rajasa
|
Anusapati
(1247-1249) | Putra Tunggul Ametung & Ken Dedes, membunuh Ken Arok
|
Wisnuwardhana
(1248-1254) | Putra Anusapati
|
Tohjaya (1249-1250)
| Putra Ken Arok dari Ken Umang, membunuh Anusapati
|
Kertanagara
(1254-1292) | Putra Wisnuwardhana
|
Wisnuwardhana
(1250-1272) | Putra Anusapati, menggulingkan Tohjaya
|
|
Kertanagara
(1272-1292) | Putra Wisnuwardhana
|
Dapat
dilihat dari tabel diatas bahwa raja-raja yang disajikan dalam masing-masing
kitab ini berbeda. Tergantung dari sudut pandang si penulisnya. Terdapat
perbedaan kepentingan juga merupakan salah satu alasan mengapa dua sumber
sejarah ini berbeda. Maka dari itu, menurut saya baik itu Pararaton maupun Negarakertagama
keduanya mempunyai ciri khusus yang berbeda. Pararaton yang isinya penuh akan hal fiktif religio-magis
sedangkan negarakertagama yangcenderung isinya subjektif.
REFERENSI
Naufal. (2019). Kitab Negarakertagama (terjemahan) . Tasikmalaya.
Rofix, A (2011, Juni 4). Pararaton vs Negarakertagama. Retrieved from Kompasiana: https://www.kompasiana.com/ar-rofixs/5500d8eba333114e75512162/pararaton-vs-negarakertagama
Wibowo
Ava N (Juli 2017). Kitab Pararaton :
Kitab Para Raja Jawa. Retrieved from dictio.id : https://www.dictio.id/t/kitab-pararaton-kitab-para-raja-jawa/8712
Komentar
Posting Komentar