Resensi Carita Parahyangan : Kerajaan Sunda Galuh dan Kerajaan Padjajaran



Meresensi Naskah / Carita Parahiyangan
Orang yang pertama kali membicarakan naskah carita parahyangan (CP) adalah Holle dalam TBG XXVII pada tahun 1882. Namun ia tidak berhasil menyusun lampiran naskah tersebut. Kemudian Noordyun berhasil menyusun lempiran-lempiran itu ke dalam cerita yang berangkat dari awal hingga akhir (Darsa, 1991: 23). Poerbatjaraka (1911-19210)  membicarakan naskah CP ini hanyalah bagian bagian yang di perkirakan dapat mempertajam mengungkapkan tabir yang menyelimuti makna prasasti Batutulis dan Pasundan bubat yang diberitakan pada naskah pararaton.
Naskah CP ini selesai ditulis (dalam arti selesai disalin serta di lengkapi) setelah Pakuan Pajajaran dikalahkan oleh pasukan Banten pada tahun 1957 masehi. Hal yang memastikan limit waktu penulisan naskah Carita Parahyangan ini adalah pemberitaan mengenai raja-raja terakhir yang memerintah selana sadewadasa (12 tahun). Dengan demikian naskah ini ditulis pada atau sesudah tahun 1579 masehi.
Berikut kutipan yang diambil sebagai bukti bentuk bahasa yang digunakan dalam naskah carita parahyangan, pada paragraf awal :
Ndeh nihan carita parahiyangan. Sang Resi Guru mangyugarajaputra. Rajaputra miseuweukeun sang Kandiawan lawan sangnkadiawati, sida sapilanceukan. Ngangaranan maneh Rahiyangta ri Medangjati, inya sang Layuwatang nya nu nyieun Sanghiyang Watangageung. Basana angkat sabumi jadi manik sakurunganmiseuweukeun pancaputra, Sang Apatiyan Sang Kusika, Sang Garga, Sang Mestri, Sang Purusa, Sang Patanjala, inya Sang Mangukuhan, SangKarungkalah, Sang Katungmaralah, Sang Sandanggreba, Sang Wrwtikandayun...
Terjemahan :
Nah, inilah Carita Parahiyangan. Sang Resiguru beranak Rajaputra. Rajaputra beranak Sang Kandiawan dan Sang Kandiawati; duai orang kakak beradik Sang Kandiawan kemudian menamakan dirinya Rahiyangta Dewaraja. Ketika ia menjalani kehidupan secara rajaresi,menamakan dirinya Rahiyangta di Medangjati; yaitu Sang Layung watang. Dialah yang menyusun Sanghiyang Watangageung. Pada waktu menginjak waktu masa berumah tangga. la dikarunia lima orang anak (pancaputra) sebagai penjelmaan dari sang Kusika Sang Garga, Sang Mestri. Sang Purusa, Sang Patanjala, yakni: Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, Sang Katungmaralah, Sang Sandanggreba, dan Sang Wretikandayun
Naskah Carita Parahiyangan menceritakan sejarah Sunda, dari awal Kerajaan Galuh pada zaman Wretikandayun sampai runtuhnya Pakuan Pajajaran (ibukota Kerajaan Sunda)
Kerajaan Tarumanagara adalah salah satu kerajaan tertua yang dikenal terletak di daerah Jawa Barat. Dari naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa, diketahui bahwa kerajaan itu berdiri selama kurang lebih 3 abad (abad ke-4 sampai abad ke-7) dan telah berlangsung sekitar 12 kali pergantian raja.
Masa puncak kejayaan Tarumanagara terjadi pada masa Raja Purnawarman (394 -434). Raja Tarumanagara yang terakhir yaitu Linggawarman mempunyai menantu bernama Tarusbawa. Tarusbawa inilah yang kemudian dikenal sebagai pendiri dan raja pertama kerajaan Sunda yang berkuasa selama kurang lebih 54 tahun (669-723) (Ajip Rosidi dkk., 2000: 649). Kerajaan Sunda sendiri runtuh pada tahun 1579 akibat serangan gabungan Banten dan Cirebon yang sedang meluaskan pengaruh Islam.
Naskah asli Carita Parahiyangan sebagaimana dijelaskan berasal dari daerah galuh dan sekarang disimpan di Museum Pusat Jakarta. Kemudian naskah ini dialih bahasakan oleh Purbacaraka, sebagai tambahan terhadap laporan mengenai Batu Tulis di Bogor. Upaya ini diteruskan oleh H. ten Dam (tahun 1957) dan J. Noorduyn (laporan penelitiannya dalam tahun 1962 dan 1965). Selanjutnya naskah ini juga diteliti oleh beberapa sarjana Sunda, di antaranya Ma’mun Atmamiharja, Amir Sutaarga, Aca, AyatrohaΓ©di, Γ‰di S. Γ‰kajati, dan Undang A. Darsa.


Silsilah





Kerajaan Sunda (Pajajaran)
Kerajaan Sunda (669–1579 M), menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Caka Sunda (669 M). Menurut Kitab Carita Parahyangan, Ibukota kerajaan Sunda mula-mula di Galuh, kemudian menurut Prasasti Sanghyang Tapak yang ditemukan di tepi sungai Cicatih, Cibadak Sukabumi, Isi dari prasasti itu tentang pembuatan daerah terlarang di sungai itu yang ditandai dengan batu besar di bagian hulu dan hilirnya. Oleh Raja Sri Jayabhupati, penguasa kerajaan Sunda.
Asal muasal Kerajaan Pajajaran dimulai dari runtuhnya Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1400 masehi. Saat itu Majapahit semakin lemah apalagi ditandai dengan keruntuhan masa pemerintahan Prabu Kertabumi atau Brawijaya ke lima, sehingga ada beberapa anggota kerajaan serta rakyat mereka yang mengungsi ke ibu kota Galuh di Kawali, wilayah Kuningan, di mana masuk provinsi Jawa Barat. Wilayah ini merupakan daerah kekusaaan dari Raja Dewa Niskala.
Raja Dewa Niskala pun menyambut para pengungsi dengan baik, bahkan kerabat dari Prabu Kertabumi yaitu Raden Baribin dijodohkan dengan salah seorang putrinya. Tidak sampai di situ, Raja Dewa Niskala juga mengambil istri dari salah seorang pengungsi anggota kerajaan. Sayangnya, pernikahan antara Raja Dewa Niskala dengan anggota Kerajaan Majapahit tidak disetujui oleh Raja Susuktunggal karena ada peraturan bahwa pernikahan antara keturunan Sunda-Galuh dengan keturunan Kerajaan Majapahit tidak diperbolehkan. Peraturan ini ada sejak peristiwa Bubat.
Karena ketidaksetujuan dari pihak Raja Susuktunggal terjadilah peperangan antara Susuktunggal dengan Raja Dewa Niskala. Agar perang tidak terus menerus berlanjut maka Dewan Penasehat ke dua kerajaan menyarankan jalan perdamaian. Jalan perdamaian tersebut ditempuh dengan menunjuk penguasa baru sedangkan Raja Dewa Niskala dan Raja Susuktunggal harus turun tahta.
Kemudian ditunjuklah Jayadewata atau dikenal juga dengan sebutan Prabu Siliwangi yang merupakan putra dari Dewa Niskala sekaligus menantu dari Raja Susuktunggal. Jayadewata yang telah menjadi penguasa bergelar Sri Baduga Maharaja memutuskan untuk menyatukan kembali ke dua kerajaan. Dari persatuan ke dua kerajaan tersebut maka lahirlah Kerajaan Pajajaran pada tahun 1482. Oleh sebab itu, lahirnya Kerajaan Pajajaran ini dihitung saat Sri Baduga Maharaja berkuasa.
 Kerajaan Galuh
Kata “Galuh” berasal dari bahasa Sansakerta yang berarti sejenis batu permata. Kata “galuh” juga biasa digunakan sebagai sebutan untuk seorang ratu yang belum menikah (“raja putri”).
Sejarawan W.J. van der Meulen berpendapat bahwa kata “galuh” berasal dari kata “sakaloh” yang berarti “asalnya dari sungai”.
Terdapat pula pendapat lain yang menyatakan bahwa kata “galuh” berasal dari kata “galeuh” yang berarti inti atau bagian tengah batang kayu yang paling keras.
Raja terkenal yang berkuasa di Galuh adalah Raja Sanjaya. Ketika kerajaan itu berpusat di Kawali (abad ke-14) diperintah oleh Prabu Maharaja (di kalangan masyarakat setempat, raja ini lebih dikenal dengan nama Maharaja Kawali). Pada masa pemerintahan raja itulah agama Islam sudah mulai masuk ke Kawali dari Cirebon antara tahun 1528 sampai 1530.
Ketika Kerajaan Sunda/Pajajaran ini diperintah oleh Nusiya Mulya (pertengahan abad ke-16), eksistensi kerajaan tersebut telah berakhir akibat gerakan kekuatan Banten di bawah pimpinan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan agama Islam. Peristiwa itu terjadi tahun 1579/1580. Sejak itu Pakuan Padjajaran berada di bawah kekuasaan Kerajaan Banten.



DAFTAR PUSTAKA
Hasbullah, Moeflich. 2006. Kekuasaan Sunda Dalam Konstalasi Modern :Sebuah 
   Prespektif Perbandingan Dengan Jawa. 2006, Hal  1-2
Suryani, Elis. 2007. Keanekaragaman Budaya Sunda Buhun. Tasikmalaya: Alqa
 “Sejarah Kerajaan Galuh”. warisansejarahnusantara.blogspot.com. 11 July 2017.
   19 September 2019.
“Sejarah Singkat Dan Silsilah Prabu Siliwangi”. kanaljabar.com. 12 Oktober 2018.
   19 September 2019



Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME/RESENSI KITAB NEGARAKERTAGAMA DAN KITAB PARARATON