PERADABAN ASIA KUNO Salah Satu Awal Peradaban di Dunia : Peradaban Sungai Gangga





01/5/2020 ­– Jika mendengar kalimat “Peradaban Kuno di Asia Selatan” tentu pasti kita akan merujuk kepada peradaban Sungai Indus dan Sungai Gangga.  Keduanya merupakan peradaban yang membentuk negara India saat ini. Yang mana masyarakatnya menetap saat tahun 3000 SM dan tinggal didekat daerah aliran sungai. Mengapa peradaban zaman dahulu sebagian besar tinggal didaerah dekat aliran sungai atau sumber air? Karena sungai merupakan sumber kehidupan. Makhluk hidup pasti membutuhkan sumber mata air baik manusia,hewan,maupun tumbuhan. Dan apabila suatu peradaban itu dekat sungai maka segala aktivitas baik aktivitas masyarakat atau aktivitas pemerintahan akan mudah dilakukan. Selain itu, sungai merupakan petunjuk arah paling mudah. Apabila sekelompok manusia zaman dahulu ingin menjelajah (mencari tempat tinggal baru), mereka bisa menggunakan petunjuk sungai.
SINGKAT PERADABAN LEMBAH SUNGAI INDUS
India merupakan Negara yang paling banyak mempengaruhi kebudayaan kebudayaan yang ada di Asia Selatan. Terbukti dengan adanya peradaban Sungai Indus yang pendukungnya adalah bangsa Dravida. yang memiliki ciri-ciri bibir tebal, kulit hitam, hidung pesek, berbadan tegap, dan berambut ikal. Mereka dapat dikategorikan kepada ras Australoid. Mereka ini yang membangun kota Mohenjo Daro dan Harappa. Namun, peradaban ini runtuh akibat serangan bangsa Arya tahun 1000 SM melalui celah Khyber. Sejarah bangsa Arya diperoleh dari kitab Rigveda. Setelah berhasil mengalahkan bangsa Dravida di Lembah Sungai Indus dan menguasai daerah yang subur, akhirnya mereka hidup menetap.
PERADABAN LEMBAH SUNGAI GANGGA
Setelah berkelana lebih jauh dari Sungai Indus, pada tahun  950M mereka tinggal di daerah Doab yaitu suatu lengkungan yang terletak di antara utara sungai Gangga dan anak sungai Jamuna. Letak Sungai Gangga sendiri berada di antara pegunungan Himalaya dan pegunungan Windya-Kedna. Sungai Gangga bertemu dengan sungai KwenLun. embah Sungai Gangga merupakan daerah yang subur. Sungai Gangga juga dianggap suci oleh umat Hindu. Menurut kepercayaan umat Hindu India, air sungai Gangga dapat mensucikan diri manusia dan menghapus segala dosa. Begitu pula tulang dan abu orang yang meninggal di buang ke dalam Sungai Gangga agar arwah orang yang meninggal tersebut dapat masuk surga.
Lembah Sungai Gangga sangat subur, sekitar tahun 1000-700 SM, daerah tersebut masih didominasi oleh hutan tropis yang lebat. Bangsa Arya disana ini banyak memanfaatkan kesuburan tanah wilayah tersebut. untuk bercocok tanam. Sungai disana pun dimanfaatkan mereka untuk membangun saluran-saluran air seperti saluran irigasi untuk pertanian mereka. Dan mereka terus mengembangkan kebudayaannya. Percampuran budaya antara Bangsa Arya dan Dravida itu melahirkan kebudayaan Weda. Kebudayaan inilah yang melahirkan agama dan kebudayaan Hindu atau Hinduisme. Daerah perkembangan pertamanya di lembah Sungai Gangga yang kemudian disebut Aryawarta (negeri orang Aria) atau Hindustan (tanah milik orang Hindu).
Pada akhir abad ke-6 SM, wilayah lembah Sungai Indus direbut oleh Persia. Akibat dari penaklukan tersebut, pusat peradaban India mengalami pergeseran ke arah tenggara, dari Punjab ke daerah sekitar pertemuan sungai Gangga, Gogra, dan Son. Kondisi Politik di pusat peradaban  India di lembah Sungai Gangga, menyerupai kondisi politik di Cina yang sezaman dengan mereka. Seperti Cina, lembah Sungai Gangga terbagi secara politik menjadi sejumlah kerajaan yang berkuasa secara lokal, dan tentunya dengan kekuatan yang berbeda-beda.
Pada abad tersebut, lembah Sungai Gangga terbagi ke dalam 16 kerajaan, di antaranya adalah negara Kuru, Gandhara, Videha, Satupura Pancala, Ashuakan, Dekan dan Maghada. Ke-16 kerajaan itu disebut sebagai mahajanapada, kata tersebut memiliki arti “sebuah suku yang memiliki tanah”. Di luar ke-16 kerajaan itu, terdapat beberapa kelompok suku yang menolak untuk dimasukkan ke dalam salah satu dari 16 mahajanapada. Dibanding melebur ke dalam kerajaan-kerajaan itu, suku-suku tesebut memilih membentuk persekutuan mandiri, yang disebut gana-sangha.
Untuk mempertahankan kekuasaannya di tengah kehidupan masyarakat, bangsa Arya berusaha menjaga kemurnian ras. Artinya, mereka melarang perkawinan campur dengan bangsa Dravida. Untuk itulah, bangsa Arya menciptakan sistem kasta dalam kemasyarakatan. Sistem kasta didasarkan pada kedudukan, hak dan kewajiban seseorang dalam masyarakat. Pembagian golongan atau tingkatan dalam masyarakat Hindu terdiri dari empat kasta atau caturwarna, yakni :

                   Sistem Kasta Peradaban Lembah Sungai Gangga
  • ·         Brahmana (pendeta), bertugas dalam kehidupan keagamaan;
  • ·         Ksatria (raja, bangsawan dan prajurit), berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk mempertahankan negara.
  • ·         Waisya (pedagang, petani, dan peternak), dan
  • ·         Sudra (pekerja-pekerja kasar dan budak).
  • ·         Paria (Pelanggar Aturan, Penjahat, Perampok, Pembunuh)

Kasta Brahmana, Kastria, Waisya terdiri dari orang-orang Arya. Kasta Sudra terdiri dari orang-orang Dravida. Selain keempat kasta di atas, ada lagi kasta Paria/Candala atau Panchama. Panchama yang berarti “kaum terbuang”. Kasta ini dipandang hina, karena melakukan pekerjaan kotor, orang jahat dan tidak boleh disentuh, lebih-lebih bagi kaum Brahmana.
Kurban-kurban dan persembahan adalah bagian dari kegiatan sehari-hari kaum Arya. Dibalut bersama dengan budaya dari bangsa Harrapa, dan suku-suku pribumi lain, praktik-praktik bangsa Arya menjadi inti dari kebanyakan bentuk praktik keagamaan Hindu yang dikenal hinga sekarang.
Para pendeta (Brahmana) yang melaksanakan upacara kurban adalah bangsawan pertama dalam lapisan masyarakat India, dan mereka terus memegang pengaruhnya dalam ke-16 mahajanpa. Seperti ksatria yang memerintah, para pendeta juga mempunyai marga sendiri, sehingga orang yang terlahir dalam keluarga pendeta berarti termasuk golongan brahmana dan berhak mewarisi hak istimewa dalam kurban.
Pada zaman 16 kerajaan tersebut, seorang laki-laki yang tidak lahir dengan marga ksatria masih bisa menjadi raja, apabila para pendeta melaksanakan ritual untuk melimpahkan berkat kuasaan suci atasnya. Akan tetapi tidak seorang pun dapat mengambil tugas pendeta, kecuali keturunan langsung dari golongan brahmana. Bahkan, menurut The Laws of Manu, kaum Brahmana digambarkan sebagai raja dari semua makhluk ciptaan, yang dilahirkan untuk melindungi pembendaharaan hukum.
Perkembangan sistem pemerintahan di Lembah Sungai Gangga merupakan kelanjutan sistem pemerintahan masyarakat di daerah Lembah Sungai Indus. Runtuhnya Kerajaan Maurya menjadikan keadaan kerajaan menjadi kacau dikarenakan peperangan antara kerajaan-kerajaan kecil yang ingin berkuasa. Keadaan yang kacau, mulai aman kembali setelah munculnya kerajaan-kerajaan baru. Kerajaan-kerajaan tersebut di antaranya Kerajaan Gupta dan Kerajaan Harsha.
1.      Kerajaan Gupta
Kerajaan Gupta merupakan salah satu kerajaan yang ikut membangun peradaban di lembah sungai-sungai yang ada di Asia Selatan. Kerajaan ini didirikan oleh seorang penguasa, yang dahulu menjadi bagian dari Kerajaan Maurya, bernama Raja Chandragupta I. Ia menjadi raja pertama di Kerajaan Gupta, berkuasa kurang lebih selama sepuluh tahun yaitu sejak tahun 320 M sampai dengan 330 M. Kerajaan Gupta memilih kawasan lembah sungai Gangga sebagai pusat pemerintahan mereka. Ketika Kerajaan Guptra berada di bawah pimpinan Raja Chandragupta I, agama Hindu menjadi agama resmi negara, di samping agama Budha yang menjadi agama mayoritas masyarakat Gupta.
Masa puncak kejayaan kerajaan Gupta terjadi ketika berada di bawah pimpinan Raja Samudragupta, yang merupakan cucu dari Chandragupta I. Masa pemerintahan Samudragupta, Kerajaan Gupta berhasil menguasai seluruh wilayah sungai Gangga dan lembah sungai Indus. Saat itu, Samudragupta memutuskan untuk memindahkan ibukota kerajaan Gupta ke Ayodhia. Hal itu dilakukan untuk memudahkan koordinasi dengan wilayah Kerajaan Gupta yang semakin luas.
Kerajaan Gupta yang berdiri sejak tahun 320 M sampai tahun 550 M, sangat peduli dengan perkembangan ilmu pengetahuan di seluruh wilayah India, bahkan masa ini dianggap sebagai masa keemasan peradaban India dalam bidang matematika, astronomi, agama, dan filsafat. Kerajaan Gupta turut menyumbangkan berbagai hasil karya sastra yang gemilang. Salah seorang pujangga yang sangat terkenal pada periode tersebut adalah Kalidasa. Salah satu karyanya yang paling besar berjudul Syakuntala. Perkembangan seni kerajinan patung juga ikut berekembang pesat pada masa Kerajaan Gupta. Hal itu terlihat dari pahatan-pahatan di kuil-kuil di Syanta dan bangunan-bangunan lainnya.
Sepeninggalan Raja Samudragupta, kepemimpinan kerajaan Gupta beralih kepada Raja Chandragupta II, yang dikenal juga dengan nama Wikramaditya. Di bawah pimpinan Raja Chandragupta II, rakyat di kerajaan Gupta hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan, tanpa adanya konflik internal. Raja Chandragupta II memiliki rasa toleransi terhadap agama yang cukup tinggi. Terbukti dari didirikannya sebuah sekolah tinggi agama Budha di Kota Nalanda, di antara mayoritas agama Hindu di seluruh wilayah Kerajaan Gupta. Setelah Raja Chandragupta II wafat, kerajaan Gupta mengalami kemunduran berbagai suku bangsa di Asia Tengah datang menyerbu. Hampir dua abad masa gelap ini menimpa India. Akhirnya pada abad ke 7, muncullah seorang raja yang kuat bernama Harshavardhana, dengan membangun kembali kerajaan tersebut.
2.      Kerajaan Harsha
Rajanya bernama Suhasta Mama Maharaja Diraja Sri Harsha Wardana, memerintah tahun 606 hingga 647, yaitu raja terakhir dari raja India yang masyhur harsha berasal dari keturunan raja kecil, namun ibunya termasuk keturunan raja Gupta. Raja Harsha merupakan raja yang bersifat adil dan cakap, dia menjadi terkenal karena sifatnya yang tulus terhadap sesama. Harsha menganut agama budha, pembunuhan terhadap hewan dilarang dinegerinya, dengan ancaman hukuman yang tinggi bagi yang melanggar. Meskipun raja beragama budha tetapi memiliki toleran terhadap yang beragama Hindu. Dalam segi hukum dan etika pergaulan dapat dinyatakan, bahkan terdapat kecenderunganuntuk menghormati rakyat. Kejahatan maupun pelanggaran tidak mengakibatkan kematian, terhadap kasus susila berupa pemerkosaan diancam berupa potong telingaatau hidung. Dijelaskan pula dalam kehidupan umum, apabila penduduk dikerahkan untuk dipekerjakan, maka tenaga mereka dihargai dengan pembayaran yang pantas.
Harsha berusaha memperkuat tentaranya. Setelah cukup kuat, ia memperluas kakuasaan dari India Utara sampai ke Teluk Benggala. Hanya saja saat ia melawan kerajaan Chalukya di India Tengah ia bdikalahkan oleh raja Pulakhesin ll (raja terkenal kerajaan Chalukya). Harsha memerintah selama 46 tahun. Pada akhir pemerintahannya ia menjadi seorang santri (Sangha) Budha. Pada tahun 647 raja Harsha wafat setelah memerintah 46 tahun. Ia adalah raja yang membawa keamanan dan kemakmuran dan membangkitkan India kembali dari penindasan bangsa Huna. Tapi setelah kemakmuran kembali, terjadilah permusuhan antara raja-raja yang berkuasa dibawah Harsha. Persatuan India lenyap sampai zaman Islam, dalam lima abad mendatang mengalami perpecahan dan kekacauan.




Sumber Referensi
Eko, T. H. (2014). Pembelajaran Sejarah Interaktif. Solo: Platinum.
Hapsari, Ratna san M. Adil. 2013. Sejarah Kelomok  Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Erlangga.
Jenisa Frinilia. 2015. Makalah Geografi Regional Dunia : Asia Selatan. Makalah. Padang: Universitas  Negeri Padang.
Nurlidiawati, N. (2014). Sungai Sebagai Wadah Awal Munculnya Peradaban Umat Manusia. Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan2(01), 96-106.
Puspitasari Ratna.  2016.  Peradaban Asia Selatan: India.
Sari, Anwar. 1994. Sejarah Kebudayaan India Kuno. Malang: DepDikBud dan IKIP Malang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME/RESENSI KITAB NEGARAKERTAGAMA DAN KITAB PARARATON

Resensi Carita Parahyangan : Kerajaan Sunda Galuh dan Kerajaan Padjajaran